Cara Move On dari Seseorang yang Membuat Kamu Bingung
Dari apa yang kamu ceritakan, menurutku tidak ada kewajiban moral untuk membuka blokir seseorang hanya karena diblokir itu mungkin menyakitkan.
Aku juga melihat tangkapan layar yang kamu kirim. Pesan terakhir yang kamu kirim bernada cukup baik. Kamu bertanya dengan lembut, lalu bahkan menutupnya dengan kalimat:
"Aku akan selalu mendukung apa pun yang membuat kamu bertumbuh. Bahagia selalu ya."
Artinya, kamu sudah berusaha mengakhiri percakapan dengan baik. Setelah itu, keputusan memblokir tampaknya bukan untuk menghukum dia, melainkan untuk melindungi dirimu sendiri.
Ada satu kalimatmu yang menurutku penting:
"Saya ingin memblokir dia yang lama sejujurnya, hingga perasaan saya terhadapnya benar-benar menghilang."
Kalimat itu terdengar bukan berasal dari kebencian, tetapi dari kesadaran bahwa setiap kali masih ada akses untuk melihat profilnya, mengecek statusnya, atau berharap dia menghubungi lagi, lukamu sulit sembuh.
Jadi aku ingin mengajakmu membedakan dua hal:
- Memblokir karena dendam. Tujuannya agar dia merasa tersiksa.
- Memblokir sebagai batasan (boundary). Tujuannya agar kamu bisa pulih.
Dari ceritamu, aku lebih melihat yang kedua.
Memang benar, mungkin dia juga akan merasa sedih jika tahu diblokir. Tetapi kamu juga berhak mengakui kenyataan lain: kamu sudah sangat sakit karena hubungan ini. Menjaga kesehatan emosionalmu bukan berarti kamu sedang berlaku jahat.
Aku justru sedikit khawatir kalau kamu membuka blokir sekarang. Alasannya bukan karena itu salah, tetapi karena kalimatmu menunjukkan luka itu masih sangat hidup. Saat perasaan masih kuat, membuka blokir sering kali membuat kita:
- mengecek apakah dia online,
- berharap ada pesan,
- menafsirkan setiap perubahan foto profil atau status,
- dan akhirnya proses move on dimulai lagi dari awal.
Kalau tujuanmu benar-benar adalah sembuh, maka memblokir sementara bisa menjadi alat untuk mencapai tujuan itu.
Mungkin kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri satu pertanyaan sederhana:
Kalau aku membuka blokir hari ini, apakah itu karena aku sudah benar-benar ikhlas, atau karena masih ada harapan yang belum bisa kulepaskan?
Kalau jawabanmu adalah yang kedua, menurutku belum perlu dibuka.
Tidak ada aturan bahwa seseorang harus diblokir selamanya. Kamu bisa saja suatu hari nanti, ketika perasaanmu sudah benar-benar netral, membuka blokir tanpa ada ekspektasi apa pun. Pada saat itu, membuka blokir tidak lagi mengganggu ketenanganmu.
Sementara ini, jika memblokir membuatmu lebih tenang, izinkan dirimu menggunakan batasan itu tanpa merasa bersalah. Kesembuhanmu juga penting.
Itu menjelaskan kenapa rasa sakitmu begitu dalam.
Itulah sebabnya kalimatmu di pesan terakhir sangat kuat:
"Ternyata kamu mengingkari ucapan kamu sendiri."
Kalimat itu menunjukkan bahwa yang kamu ratapi bukan hanya kehilangan hubungan, tetapi juga hilangnya kepercayaan.
Mengenai blokir, setelah mendengar cerita ini, aku semakin memahami kenapa kamu memilih melakukannya. Kalau setiap kali melihat namanya kamu langsung teringat:
- ucapan yang menurutmu dilanggar,
- perempuan yang dulu katanya tidak disukai,
- dan semua pertanyaan "kenapa",
maka blokir bisa menjadi cara untuk menghentikan dirimu terus-menerus membuka luka yang sama.
Aku juga ingin menyampaikan satu hal yang mungkin sulit didengar.
Kalau memang dia sekarang memilih mendekati perempuan itu, membuka blokir tidak akan mengubah pilihan tersebut. Yang berubah justru kemungkinan kamu kembali terpapar hal-hal yang membuatmu sakit, misalnya melihat foto profil, status, atau berharap ada pesan yang tidak kunjung datang.
Jadi kalau tujuanmu adalah sembuh, menurutku kamu tidak perlu terburu-buru membuka blokir hanya karena merasa kasihan kalau dia diblokir. Empati itu baik, tetapi empati kepada orang lain tidak boleh mengorbankan pemulihanmu sendiri.
Suatu hari nanti, ketika kamu sudah bisa mendengar namanya tanpa merasa sesak, kamu bisa mempertimbangkan membuka blokir. Bukan karena ingin kembali, melainkan karena keputusan itu sudah tidak lagi dikendalikan oleh luka.